Ramadhan dan lebaran adalah salah satu momen terpenting dalam hidup kita, yang senantiasa penuh dengan cerita. Jadi sungguh, merupakan kebahagiaan bagi saya bisa menulis buku seputar momen yang indah ini. Seperti buku-buku saya lainnya, yang selalu berisi kisah-kisah inspiratif (semoga), buku yang diberi judul “Ramadhan di Musim Gugur” ini juga menggelar kisah-kisah inspiratif seputar mudik dan merayakan Lebaran. Ada kisah indah tentang pengalaman berlebaran di luar negeri, kisah seru dan lucu seputar pengalaman mudik, juga kisah mengharukan tentang pengalaman berlebaran tanpa kehadiran orang terkasih. Beberapa kisah mungkin akan menyentuh hati, yang lainnya akan membuat kita terkikik geli, dan ada juga yang mengingatkan kita untuk belajar lebih mensyukuri karunia. Semuanya dikemas dengan bahasa yang sederhana, tapi (semoga) sarat akan makna.
Buku ini merupakan hadiah Ramadhan saya untuk Anda, para sahabat dan pembaca setia. Insya Allah akan hadir di seluruh toko buku Gramedia kesayangan Anda mulai tanggal 25 Agustus 2009.
Pesan saya nanti, bawalah buku ini ke mana pun Anda pergi, dan Anda dapat menggunakannya sebagai:
- teman ngabuburit & mengusir lapar sebelum beduk maghrib,
- pengusir bosan dan lelah dalam perjalanan mudik,
- bahan renungan dan obrolan saat berkumpul di hari raya,
- penghibur hati kala berlebaran jauh dari keluarga.
Jangan lupa, sebarkan informasi ini kepada para sahabat dan keluarga Anda.
Bila Anda penasaran dengan isi bukunya, silakan klik di sini untuk mengintip salah satu kisahnya.

Add a comment Agustus 20, 2009

“Eh, tadi lihat nggak carry bag yang dipakai Nima?” Trias menjail tanganku. “Itu kan Luis Vuitton.”
Aku menatap tas yang ditunjukkan Nima, yang sedang bertengger di etalase butik Luis Vuitton. Kami memang sedang berjalan-jalan di level 1 Plaza Indonesia, namun sejauh ini belum ada baju atau aksesoris yang bisa kami beli. Habis, harga-harga di sini gila. Rata-rata di atas sepuluh juta. Ada sih tadi yang harganya empat juta, di butik YSL, tapi itupun hanya sebuah dompet kulit. Apa yang bisa dipamerkan dari sebuah dompet?
Sekali lagi kuamati carry bag Luis Vuitton itu. Warnanya biru cantik, dengan aksesoris mutiara. Benar, itu kan tas yang tadi pagi dipakai Nima ke kantor. Kuselidiki harganya, ya ampuun, 36 juta. Darimana cewek itu dapat uang segitu besar hanya untuk membeli sebuah tas selendang? Gajinya kan tidak beda dengan kami semua, cuma lima juta.
Aku dan Trias berkeliling lagi. Baru satu jam saja rasanya kaki sudah bengkak. Habis, barang-barang di butik-butik ala Paris ini membuat dada sesak.Gara-gara Nima yang suka promo masalah fashion, kami jadi tergerak untuk melongok ke butik-butik mahal ini. Mumpung baru gajian. Dan hasilnya…nol besar. Kami tak bisa membeli apapun dan tampaknya besok akan tetap memakai setelan kerja kami yang usang. Padahal besok ada acara gathering yang akan diliput media,dan… seharusnya kami tampil prima, karena yang akan hadir adalah kalangan atas ibukota. Tadi siang, Nima sudah membeberkan rencana perihal busana yang akan dia pakai besok. “Gue akan memakai blus dan jaket dari Armani. Sepatunya, jelas Prada.”
Mendengar merek-merek itu, jelas saja aku dan Trias tergerak untuk datang ke sini. Ke level 1 Plaza ini. Dan mendapati diri tak bisa membeli satu potong pun pakaian. Setelah dua jam keliling, bolak-balik, akhirnya kami bisa membeli sesuatu. Aku beli sebuah blus dan Trias beli bolero, dari counter Guess. Nggak begitu keren sih, karena Guess tidak masuk daftar merek favorit Nima. Tapi lumayanlah…setelah malu dilihatin para salesperson karena cuma lihat-lihat doang, akhirnya dapat juga. Dengan bangga kami pun bayar di kasir.
“Oya gue butuh jam tangan nih, yang kemarin talinya udah copot,” ujar Trias setelah menyelesaikan transaksinya. Kami pun melihat-lihat ke Mont Blanc lalu Cartier, mencari-cari jam tangan untuk Trias. Dia mendapatkan satu, akupun tak ingin ketinggalan, memilih satu.
“Istirahat dulu yuk, nanti cari-cari lagi,” ujar Trias, kami berdua pun masuk ke Ice Cream Gelare. Kami memesan soft drinks. Dan mm…rasanya segar setelah lelah keliling selama dua jam.
“Gue penasaran, setelah Nima lihat kita pakai baju ini, apa komentar dia ya?” kata Trias. “Selama ini kita selalu diolok-olok. Buta soal mode-lah, wanita klasik-lah, pokoknya gue udah gerah. Di depan Nima, penampilan sekeren apapun, kalau bajunya nggak branded, selalu kurang.”
“Ya mudah-mudahan aja kali ini komentarnya positif. Setidaknya, kita udah bisa beli baju dari butik keren,” harapku, tidak yakin. Nima, teman sekantor kami memang paling kritis dalam urusan mode. Soal pakaian, dia masuk kategori high class plus plus. Aku dan Trias dianggap orang paling tak punya gaya. Dengan membeli baju ini, mudah-mudahan dia berhenti mengkritik. Jikapun mengkritik, setidaknya tidak terlalu nyelekit.
Setelah menyegarkan kerongkongan dengan sebotol soft drink, kami pun siap jalan lagi. Masih ada barang-barang yang harus dibeli. “Coba lihat dulu tinggal berapa uang gue,” kata Trias sambil membuka dompetnya. Akupun membuka dompetku. Dan sedetik kemudian…kami sama-sama melotot tak percaya.
“Hah, tinggal sejuta?”
“Emang kita beli apa aja sih?” tanyaku panik.
“Ya cuma ini doang,” kata Trias seraya menunjuk kantong belanjaan. “Blus dan jam tangan.”
“Dan itu menghabiskan empat juta?” teriakku, membuat sepasang muda-mudi yang sedang minum kopi di sebelah kami menoleh.
“Hush,” Trias menyuruhku mengecilkan volume suara. “Emang segitu. Tadi kan blus lo 2,7 juta. Trus jam tangannya 1,1 juta. Belum minum, belum ongkos taksi. Pas kan?”
Aku terduduk lesu. O my god. Gaji lima juta amblas tinggal sejuta? Apa yang telah kulakukan?
Tenang, tenang. Jangan panik. Toh uangku masih ada sejuta. Belum yang ada di credit card. Dunia belum kiamat kan? Sekarag hitung lagi dengan kepala dingin, apa sih keperluan sebulan ke depan sampai tanggal gajian berikutnya? Sewa kost, Rp 500 ribu, oke. Makan? Rp 30ribu x 30 = Rp 900 ribu. Dijumlahkan 500 ribu + 900 ribu = 1,4 juta….Dan uangku tinggal sejuta? Itu artinya, minus 400 ribu! Bagaimana aku bisa menutupinya? Belum untuk ongkos naik busway selama sebulan? Bagaimana dengan keperluan lain? Bedak, lipstick, sikat gigi, pembalut….Oh no!
“Habis deh gue,” ringisku. Di depanku Trias juga pucat pasi. Menghitung dompet. Lagi dan lagi, tapi hasilnya tetap sama. Membuka-buka buku rekening tabungan, tapi tentu saja keningnya tambah berkerut.
Dengan gaji lima juta sebulan, bagaimana mungkin kami bisa nabung? Biaya hidup di Jakarta kan tidak murah? Oh ayolah, seharusnya ini cukup. Andai tadi tidak membeli baju dan jam tangan sialan itu. Ugh…gara-gara terbujuk rayuan Nima, lagi-lagi tekor. Seperti bulan-bulan sebelumnya, aku dan Trias selalu tekor. Tekor! Tekor! Tekor!
Sejak Nima bekerja di kantor kami, gaji kami memang pas lagi naik. Tapi itu jadi tidak ada artinya. Karena Nima begitu penuh pesona, begitu persuasif, hingga tak tahan bagi kami untuk tidak mengikuti selera modenya yang tinggi. Bayangkan, setiap hari dia memakai baju-baju dan aksesoris yang branded, dan dengan bangga mengatakannya, “Ini dibeli di butik anu lho, harganya segini, coba deh pegang, bahannya sehalus mentega kan?….” Aku dan Trias yang polos, terkagum-kagum menyaksikan setiap ‘fashion show’nya. Saat break, atau jam makan siang, Nima selalu memperlihatkan majalah-majalah mode terbaru, katalog-katalog kecantikan paling trendy, dan mengemukakan recana belanjanya. “Gue mau beli yang ini, ini dan ini,” dan besoknya dia sudah memakainya ke kantor dengan bangga. Siapa yang nggak tergiur, coba?
Nima selalu dikerubutin teman-teman sekantor. Banyak yang ‘terpanasi’ oleh aksi pamer Nima soal busana. Tapi karena dia bekerja di divisi yang sama dengan aku dan Trias, otomatis kami berdualah yang paling sering jadi sasaran gila mode-nya. Dia fashion freak yang parah. Tak malu-malu membanggakan gaya hidup ala jetsetnya kepada setiap orang dan di setiap kesempatan. Maklumlah dia puteri salah seorang pejabat penting di ibukota. Uang bukan masalah untuk membiayai life style-nya.
Bagi kami – aku dan Trias? Ugh…jelas masalah. Promo-promo Nima membuat ‘air liur’ kami bangkit. Sayangnya, orangtua kami tidak sekaya orangtua Nima. Ketika kami menghabiskan uang untuk mengikuti saran-saran mode dari Nima, habislah gaji sebulan. Tak ada back up. Jangankan bisa nabung, kartu kredit saja terus-terusan nunggak.
Godaan dari seorang Nima memang begitu besar.
Dia membeli blackberry terbaru dan membuat ponsel kameraku yang seharga lima juta langsung ketinggalan jaman.
Dia memakai setelan Dior ke suatu acara resmi dan membuat blazer hitam sempurnaku tampak murahan.
Dia meng-highlight rambutnya di salon mahal dan membuat rambut panjang hitamku langsung mengusam.
Dan tadi pagi, dia membeli carry bag Luis Vuitton dan membuat tas kerjaku yang seharga tujuh ratus ribu – yang dibeli dari Mangga Dua – ingin kubuang.
Selalu ada cara bagi Nima untuk membuat aku dan Trias minder. Terlebih, sejak kedatangan cewek modis itu, Mr. Andy – bos kami – tampak lebih care pada Nima dibanding pada aku dan Trias. Tak heran karena Nima begitu mengkilap dengan dandanannya yang sempurna dan ber-budget mahal.
Pernah suatu kali Nima menceritakan pengalamannya berendam rempah-rempah dan sauna di sebuah beauty spa. “Coba deh kalian ke sana, dan rasakan bedanya,” ujar Nima. Aku dan Trias jadi terprovokasi. Sorenya sepulang kerja, kami berdua langsung mencari alamat beauty spa itu dan mendapatkan treatment ala puteri keraton di sana. Mandi uap, luluran, facial, message, duh rasanya nikmat betul. Kami menghabiskan tiga jam di sana. Walhasil, badan pun segar dan kulit terasa lebih halus dan kencang. Tapi imbangannya, kami harus bayar satu juta! Hohoho…Dan pulangnya, karena taksi nggak lewat, terpaksa naik bajaj! Badan segar dan kulit bersih langsung terpolusi lagi. Uang sejuta tak ada bekasnya.
Sedih memang, hidup di Jakarta hanya dengan gaji lima juta. Mau beli apapun selalu tidak cukup. Setiap bulan, habis-habisan. Rasa-rasanya, aku dan Trias harus mulai berkencan dengan pria-pria kaya yang bisa membiayai gaya hidup kami. Tapi kami kan bukan cewek matre, yang suka morotin lelaki. Satu-satunya jalan yang mungkin adalah menekan pengeluaran. Tapi bagaimana bisa kalau kami masih sekantor dengan Nima? Cewek itu begitu besar godaannya.
Herannya, selain aku dan Trias, teman-teman sekantor lain tampak hepi-hepi aja tuh. Mereka nggak pernah mengeluhkan soal gaji. Gaji segitu bagi mereka cukup-cukup aja. Yang sudah punya istri dan anak pun sanggup kok bertahan dengan gaji segitu. Bahkan ada yang bisa menyisihkan uang untuk nabung, mencicil rumah, kredit mobil, dan mengirim buat orang tua di kampung.
Ahh…dasar aku dan Trias saja yang mudah terpengaruh omongan Nima. Gara-gara berkawan dengan seorang borju, kami jadi sesak nafas.
“Kayaknya kita harus berhenti dengerin Nima deh,” usulku pada Trias. Kami berdua masih merenungi nasib di kafe Ice Cream Gelare.
Trias mengangguk setuju. “Iya. Jangan sampai kita terus-terusan kejebak gaya hidup yang jauh dari jangkauan kita. Tapi gimana caranya ya?”
“Kita bicara langsung aja padanya,” ujarku. “Sebab kalau nggak, dia pasti nggak akan berhenti manas-manasin kita dengan ‘peragaan busana’nya.”
Aku dan Trias pulang dengan membawa kantong belanjaan yang rasanya kini seperti beban tak berguna. Padahal, itu sudah menghabiskan empat juta, dan gara-gara itu kami tak tahu bagaimana akan melanjutkan hidup selama sebulan ke depan.
Besoknya, setelah acara gathering dan Nima sempat mengkritik busana kami (bisa-bisanya dia mengkritik baju yang telah menghabiskan 80% gaji kami!), aku dan Trias mengajak Nima bicara. “Nim, kami senang berkawan ama elo. Dan kagum banget sama taste elo. Tapi tahukah kamu? Gara-gara elo ngomongin terus soal gaya hidup, aku dan Trias jadi ikut-ikutan. Dan akhirnya, kami berdua jadi tekor.”
Aku merasa seperti anak kecil yang sedang menyuruh temannya pergi dan tidak mengganggu lagi.
“Trus?” Nima memandang penasaran.
“Trus, gue sih minta elo stop aja ngomongin fashion dan tetek bengeknya di depan kami berdua. Karena kalau nggak, kami pasti akan tergoda terus untuk ngabisin duit. Dan itu nggak sehat buat masa depan kami.”
Nima tertawa terbahak-bahak. “Lha, masalahnya kan ada di kalian? Bukan di gue. Kenapa mesti nyalahin gue? Gue punya taste sendiri soal dandanan, dan nggak bermaksud menyuruh lo berdua ngikutin gue. Kalianlah yang harus pandai memenej diri sendiri.”
Jawabannya persis seperti yang sudah kami duga. Percakapan itu berakhir tidak enak. Tapi sejak saat itu Nima membatasi percakapan soal gaya hidupnya pada kami. Dia mulai jarang memperlihatkan katalog produk baru, majalah mode terkini, dan semacam itu. Tapi ketika makan siang, aku melihat dia sedang berbicara dengan Tini dan Asih – staf bagian lain kantor – membahas soal baju-baju Prada terbaru. Aku dan Trias cuma saling pandang dan tersenyum-senyum melihat kepolosan Tini dan Asih, yang begitu antusias dan tergiur oleh promo-promo Nima.
“Hmm…mungkin dulu kita juga seperti itu yah,” ujarku malu.
Di manapun berada, wanita memang mudah tergoda oleh apa yang tampak di depan mata. Apalagi jika tinggal di kota metropolitan. Kalau tidak cermat menahan godaan, akan menyesal sesudahnya. Yaitu saat dompet sudah berbicara, “Tekor! Tekor! Tekor!”
–Sumber: buku “Kerjaku Ibadahku” karya Elie Mulyadi (2008)
Add a comment Juni 19, 2009

Boss berhemat anggaran,
Staff bilang, “Dia kepelitan!”
Boss menetapkan deadline,
Staff bilang, “Ini tekanan!”
Boss suka mengontrol,
Staff bilang, “Kayak diktator!”
Boss membuat keputusan primer-reguler,
Staff bilang, “Otoriter!”
Boss memberikan kelonggaran,
Staff bilang, “Di mana ketegasan?”
Boss akrab dengan para kolega,
Staff bilang, “Kurang wibawa.”
Boss mengkritik,
Staff bilang, “Dasar orang sulit!”
Boss terpaksa menunda pembayaran gaji,
Staff bilang, “Manipulasi!”
Boss menyesuaikan kualitas kerja dengan nilai insentif,
Staff bilang, “Diskriminatif!”
Boss minta kerja ekstra,
Staff bilang, “Ini eksploitasi, Saudara-saudara!”
Boss memangkas biaya agar perusahaan tidak K.O.
Staff bilang, “Ayo kita demo!”
Mana yang lebih enak?
Jadi boss atau staff?
Sumber: Buku “Kerjaku Ibadahku” karya Elie Mulyadi (Gramedia, 2008)
Add a comment Mei 15, 2009

By: Elie Mulyadi
Ya Allah, terima kasih telah memberi hamba masalah
Dengan begitu hamba belajar membuang kata ‘menyerah’.
Ya Allah, terima kasih telah mendatangkan kesulitan
Dengan begitu hamba belajar untuk berpikir dan bersabar.
Ya Allah, terima kasih telah menciptakan hamba tidak dalam keadaan kaya
Dengan begitu hamba bisa merasakan nikmatnya berupaya.
Ya Allah, terima kasih telah menciptakan hamba dalam keadaan tidak tahu apa-apa
Dengan begitu hamba mau belajar keras dan berusaha.
Ya Allah, terima kasih telah memberi hamba rasa sakit
Dengan begitu hamba belajar mensyukuri nikmatnya sehat
Ya Allah, terima kasih telah menghadirkan orang-orang yang sulit
Dengan begitu hamba belajar untuk mencintai
Ya Allah, terima kasih telah menciptakan hamba tidak cantik
Dengan begitu hamba bersyukur saat diperlakukan penuh kasih
Ya Allah, terima kasih telah menciptakan hamba tidak sempurna
Dengan begitu hamba tetap menundukkan kepala.
Copyright © 2009 by Elie Mulyadi, tulisan ini dimuat di Majalah Hidayah edisi April 2009
Add a comment Mei 7, 2009

KALAH bukan musibah
Melainkan anugerah terindah
Pemacu langkah untuk berbenah
Ada seorang pemuda yang lahir di sebuah keluarga miskin. Karena suatu hal, keluarganya diusir dari rumah, dan dua tahun kemudian, ibunya meninggal dunia. Untuk bertahan hidup, ia meminjam uang kepada temannya untuk membuka usaha, namun dengan segera mengalami kebangkrutan. Lalu mencoba melamar pekerjaan, namun tak lama kemudian di-PHK. Ia ingin melanjutkan sekolah ke jurusan hukum, tapi gagal dalam ujian. Sekali lagi ia mencoba bisnis, dan kembali bangkrut. Dihabiskannya 17 tahun hidupnya hanya untuk membayar utang-utang.
Dalam kepahitan hidupnya, pemuda itu memutuskan untuk menikah. Sayang, sebelum janur kuning melambai, sang kekasih meninggal dunia secara tiba-tiba. Si pemuda pun jatuh sakit. 6 bulan lamanya terbaring di tempat tidur, menanggung cobaan hidup yang beruntun. Namun ia tidak mengeluh. Ia bertekad untuk sembuh.
Mulailah pemuda itu terjun ke pentas politik. Ia mengikuti pemilihan Dewan Legislatif. Dan kalah. Lalu mencoba lagi, kalah lagi. Kemudian ikut pemilihan anggota kongres, kali ini berhasil. Akan tetapi, 2 tahun setelahnya, ia kembali kalah dalam pemilihan dewan kongres. Namun itu tak menyurutkan langkahnya. Ia mencoba-coba ikut pemilihan senat sebanyak 2 kali, namun keduanya gagal total. Pada tahun 1856, ia nekat ikut pemilihan calon wakil presiden, dan kalah dengan perolehan suara kurang dari 100. Namun ia tidak mau berhenti sampai di situ.
Setelah melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup. Ia bahkan mencalonkan diri jadi presiden. Dan pada tahun 1860, cita-citanya berhasil. Ia terpilih menjadi presiden.
Abraham Lincoln, namanya. Presiden AS yang melegenda.
Sahabat, kita tidak pernah mengenal Abraham Lincoln, kecuali dari goresan sejarah. Kita tak pernah tahu apakah dia orang yang baik atau tak baik, orang yang patut dipuji atau dikritik, orang yang layak jadi panutan atau bukan. Tapi di luar itu, semangatnya, daya tahannya, dan sikap mentalnya dalam menghadapi kekalahan demi kekalahan, adalah inspirasi yang luar biasa bagi kita. Bayangkan. Dari 2 kemenangan dalam hidup, Abe Lincoln harus melewati 8 kekalahan, dan begitu banyak kegagalan lain yang mungkin bagi sebagian besar kita tak dapat menanggungnya.
Saya jadi menghitung-hitung. Selama 30 tahun usia, berapa kali saya pernah kalah? Sudah cukup banyakkah? Bagaimana dengan Anda, Sahabatku? Semoga lebih banyak. Sebab ada pepatah mengatakan, semakin banyak kamu gagal, semakin banyak kamu belajar, dan semakin dekat kamu mencapai keberhasilan. Semakin banyak kamu kalah, semakin banyak kamu terpacu untuk menang di kesempatan berikutnya. Pepatah yang indah, bukan? Sayang sekali, banyak dari kita yang masih punya pandangan berbeda. Bahwa kekalahan bukanlah sesuatu yang indah. Bahwa kekalahan adalah hal buruk yang selayaknya dibuat enyah.
Mengapa saya bilang ‘banyak dari kita’? Sebab itu realita. Banyak teman-teman kita, kerabat kita, saudara-saudara kita, yang menganggap kekalahan sebagai musibah besar. Para siswa terluka saat gagal dalam ujian nasional. Bahkan ada yang nekat mengakhiri hidup hanya karena ketidaklulusan. Para ibu menyiksa anaknya saat kalah oleh kemiskinan. Bahkan ada yang tega membakar dan menghabisi nyawa sang anak karena tak tahan berjuang menghidupinya. Dan yang sedang hangat, para CALEG kecewa, marah, menuntut modalnya dikembalikan, saat kalah dalam pemilihan. Bahkan beberapa mengalami stres dan mengisi ruang-ruang rehabilitasi di rumah sakit jiwa.
Kenyataan ini, begitu menggelitik ruang nurani. Betapa kita belum memahami apa sebetulnya arti dari ‘kekalahan’. Kita masih meyakini suatu sudut pandang. Bahwa kalah itu memalukan. Kalah itu merugikan. Kalah itu menyakitkan. Kalah itu pantangan. Siapa yang kalah, dia telah jatuh dan gagal. Dan yang tercipta adalah rasa gelisah, derita, dan bahkan putus asa. Sehingga kadang mendorong kita untuk menyikapinya di luar batas logika.
Sahabat, saya pernah mendengar sebuah lirik lagu dari seorang penyanyi asal Swedia:
Life is a tough principle
Who won’t reward the losers
Your name is on the cup
Yang artinya kira-kira: “Hidup adalah prinsip yang keras. Yang tidak akan pernah menghargai orang-orang kalah. Namamu tertera di atas cangkir teh (bukan di atas piala).”
Saya tidak sepenuhnya setuju. Orang kalah akan tersingkir, itu benar. Dia tidak akan dihargai, itu benar. Namun, kemenangan dan kekalahan tidak sekedar dapat dilihat dari siapa yang memegang piala dan siapa yang luput darinya, bukan? Menang atau kalah hanyalah status. Secara status, anda bisa saja pemenangnya, tapi bagaimana dengan proses sebelum dan sesudah kemenangan itu tiba? Apakah anda benar-benar menang? Hanya kejujuran hati yang bisa menjawabnya.
Sebaliknya, secara status, anda bisa saja kalah, tak berhasil merebut piala. Tapi bagaimana dengan proses sebelum dan sesudah kekalahan itu? Apakah sebelum bertanding, anda sudah berupaya keras dan jujur? Dan yang terpenting, apakah sesudah kalah, anda bangkit dan terus melangkah?
Sahabat, seorang teman saya begitu sering mengikuti kontes, baik di bidang olahraga maupun seni. Ia juga rajin mencalonkan diri dalam pemilu, sebagai caleg. Tapi sesering dia mencoba, sesering itu pula dia gagal. Hebatnya, dia tidak pernah menyerah. “Aku takkan berhenti sampai benar-benar menang,” tekadnya. Mengapa begitu, tanya saya, mulai berpikir bahwa mungkin sikap gigihnya tak disertai dengan ketinggian bakatnya, sehingga dia hanya menggenggam harapan-harapan kosong.
Dan jawabannya menyentak batin saya.
“Elie, kalah itu baik. Kalah berkali-kali itu jauh lebih baik. Kalau aku tidak pernah kalah, aku takkan pernah tahu cara-cara untuk menjadi menang.”
Ah, saya jadi mendapat suatu pelajaran baru. Bahwa selama kita masih bisa berdiri dan melangkah, kita belum benar-benar kalah. Tidak ada kata ‘kalah’ bagi orang yang masih berjuang. Ketika kita berusaha dan gagal, kita tidak kalah, kita hanya belum menemukan cara-cara yang tepat untuk menang. Betul, kan?
Orang yang benar-benar kalah adalah mereka yang tidak berani memulai. Mereka yang tidak berani mencoba, tidak berani bergerak, tidak berani bertindak, telah kalah lebih dulu. Saya percaya, Anda tidak seperti itu. Anda telah berani memulai. Jadi mengapa harus menyesali? Yang terpenting bukanlah bagaimana meraih status atau perolehan materi, namun bagaimana menyalakan api semangat di dalam diri.
Orang yang benar-benar kalah adalah mereka yang terpuruk dan enggan bangkit setelah kekalahan. Saya percaya, Anda tidak demikian. Anda berani bangkit lagi. Itulah ciri sang pemberani. Meskipun telah gagal dalam suatu perlombaan hidup, nyali tidak menciut. Anda terus maju. Itulah pemenang sejati. Meski tangan tak meraih piala, prasasti emas terukir di dalam jiwa. Dengan mental seperti itulah kemenangan akhirnya akan diraih. Kapan? Suatu hari nanti. Tak ada yang tahu, namun itu pasti.
Kekalahan memang menyakitkan, namun bila direnungkan, justru menguntungkan. Ada banyak nikmat yang terkandung di baliknya. Inilah hikmah kalah dan mengapa kalah itu indah:
Kalah itu Indah
Semua orang menyukai keindahan bintang-bintang di langit. Menyukai cantiknya warna-warni pelangi. Namun bila ingin melihat kerlip bintang, kita harus mau berdiri di kegelapan malam. Bila ingin melihat semburat pelangi, kita harus rela melewati rinainya hujan. Demikian pula bila ingin melihat cahaya kemenangan. Kita harus sanggup melewati perjuangan, pengorbanan, dan…kekalahan.
Seperti kegelapan yang menyertai cahaya bintang, seperti hujan yang mengantarkan sinar pelangi, kekalahan bagaikan lampu baterai yang menunjukkan jalan menuju kemenangan. Kalah itu indah. Percayalah.
Dengan kalah, kita mengukur diri sendiri. Bahwa kita mungkin belum sebaik yang kita kira selama ini. Niat dan ikhtiar belum betul-betul dibenahi. Masih ada rasa takabur itu, perasaan riya itu, egoisme itu. Masih ada rasa malas, bisikan untuk tidak bekerja keras, godaan untuk menepis niat ikhlas. Kekalahan membuat kita lebih banyak bercermin diri, demi menjadi insan yang lebih baik lagi.
Dengan kalah, kita belajar. Apa yang salah, apa yang belum benar? Mungkin masih ada langkah yang keliru. Mungkin masih ada khilaf, lupa, dan ragu. Dalam ulangan di sekolah saja kita tak selalu mendapat nilai 10 atau 100. Terkadang salah mengisi jawaban, plin plan mencontreng pilihan, lupa menjawab soal. Satu-satunya cara adalah belajar lebih banyak, supaya lain kali nilai tak jeblok. Saat kita kalah, kita dapat belajar dari kesalahan. Sama dengan kegagalan, kekalahan adalah guru terbaik.
Dengan kalah, kita sadar, masih banyak yang harus dikejar. Masih ada harapan yang harus digapai. Selama masih punya harapan, cita-cita, impian, kita masih punya alasan untuk terus hidup dan berjuang. Orang mati bukan yang terkubur jasadnya, tapi yang terempas semangatnya. Kekalahan (seharusnya) membuat semangat kita terpompa.
Dengan kalah, kita telah satu step melewati jalan menuju kemenangan. Yang perlu dilakukan hanya tinggal melewati step-step berikutnya. Dan sekali merasakan sakit, yang selanjutnya tidak akan terasa lebih sakit lagi.
Kekalahan hanyalah suatu bagian dari kehidupan. Yang terpenting adalah bagamana menyikapi dan menjalaninya dengan tenang, sebagai bagian dari roda hidup yang berputar.
Yuk, Lebih Bijak Menghadapinya
Bagi sebagian orang, kata ‘kalah’ terasa menyakitkan, memalukan, dan kadang merugikan. Bayangkan bila kita sudah gembar-gembor tentang rencana kemenangan, namun kenyataan yang terjadi justru berlainan. Kita sudah membuang waktu, tenaga, materi demi meraih kemenangan, tapi realita justru di luar harapan. Salahkah bila kecewa? Tentu tidak, selama rasa itu tidak berkembang menjadi putus asa. Lalu bagaimana agar kekalahan tidak mempermalukan kita, dan justru memuliakan kita?
Sahabat, mungkin tips berikut dapat berguna untuk kita yang sedang merasa kalah:
1.Terimalah kenyataan itu
Bahwa kita belum berhasil. Bahwa orang lain bekerja lebih keras, lebih banyak, lebih terencana, sehingga lebih layak jadi pemenangnya. Jangan takut mengakuinya dengan lapang dada. Ini membuat langkah terasa ringan, dan kita jadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
2.Caritahu letak kesalahan
Mengapa tidak menang? Pasti ada kesalahan. Apakah niatnya, strateginya, caranya. Mungkin niat kita belum baik. Motivasi kita baru sebatas meraih materi. Kita belum siap menjalankan amanah. Kemampuan kita masih perlu dibenahi. Cara yang kita tempuh belum tepat. Strategi belum hebat. Sebagaimana firman Allah SWT:
“….kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”…(Q.S 3:165)”
Mungkin inilah saatnya berbenah diri. Koreksi niat kita. Tingkatkan kemampuan kita. Cobalah cara dan strategi yang berbeda.
3.Jangan terpuruk, bangkitlah
Tidak masalah kita telah dijatuhkan, yang penting apakah bangkit kembali? Orang yang jatuh tidaklah kalah, orang yang kalah adalah yang sudah menyerah. Hindarilah sikap pesimis, sebab pesimis berarti melawan takdir, putus asa berarti meragukan rahmat-Nya. Bangkit. Jangan tertekan dan menunjukkan kelemahan. Jangan biarkan diri kita ditertawakan, atau dipandang kasihan. Buktikan bahwa di lain waktu kita pun bisa menang. Orang yang menang adalah yang tertawa paling akhir.
4.Sadari ini bagian dari skenario Illahi
Tidak semua cita-cita manusia bisa tercapai. Tugas kita hanya berusaha, berdoa, dan menerima hasilnya dengan tawakkal. Bila akhirnya mengecewakan, yakinlah bahwa ini sudah ditentukan. Jangan katakan “Mengapa saya?” namun teriakkan dengan gembira, “Wah, ternyata saya! Sayalah yang telah dipilih Allah dalam ujian ini”. Insya Allah, segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik. Menjadi jembatan untuk lebih dekat pada-Nya. Firman-Nya:
“…maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (Q.S 3:166)
5.Terus belajar dan menempa diri
Kekalahan adalah sekolah terbaik kita. Belajarlah darinya. Bahkan Rasulullah SAW, satu-satunya manusia sempurna, juga tak kebal pada kekalahan. Sahabat masih ingat, kan? Kisah ketika pasukan muslimin dibawah pimpinan Rasulullah SAW kalah dalam perang Uhud, padahal sebelumnya telah menang besar dalam perang Badar. Apalagi bagi kita, manusia biasa, kekalahan tentulah hal yang lumrah. Yang tidak lumrah adalah bila kita menyikapinya dengan kesedihan berlebihan. Konsentrasilah pada apa yang harus dilakukan selanjutnya, bukan pada rasa sakitnya. Ibarat bunga yang harus ditumbuk dan disaring berkali-kali, maka jadilah parfum yang bernilai tinggi. Kita pun begitu. Semakin banyak mengalami rasa sakit ditempa, makin cepat kita menjadi harum dan berharga.
6.Berjuang untuk menang, bersiap untuk kalah
Berupayalah dengan segenap kemampuan terbaik kita, namun bersiaplah untuk menerima apapun hasilnya. Seringkali orang yang sudah siap mati justru yang memenangkan pertandingan. Kenapa? Karena saat bertanding, hati sudah siap mengalami hal terburuk, dan itu meringankan beban pikiran, memudahkan keberhasilan. Orang yang tidak siap kalah, akan merasa cemas setiap saat, dan energinya jadi terserap. Kemenangan pun lenyap.
Sahabat, tak ada yang perlu ditakutkan dari kekalahan. Di saat kita kehilangan tenaga, orang lain justru tertimpa bencana dan kehilangan harta. Di saat kita kehilangan harta, orang lain kehilangan sanak keluarga. Di saat kita kehilangan muka, orang lain kehilangan nyawa. Kita masih beruntung. Meski kita kalah, kita masih bisa menang, yakni dengan mengais sisa-sisa semangat untuk berdiri lagi. Yuk, kita songsong hari depan tanpa rasa takut kekalahan. Copyright 2009 by Elie Mulyadi, dimuat di Majalah Hidayah
Add a comment April 29, 2009

Orang berhasil bukan karena janjinya
Tapi karena komitmen menunaikannya
(Elie Mulyadi)
Ada sebuah lemari di rumah saya yang sudah lama tak tersentuh. Tampak muram dan berdebu. Suatu pagi, saya meluangkan waktu untuk membukanya. Tangan saya pun mulai menari di atas tumpukan buku dan berkas yang sudah lama terlupakan itu.
Sungguh waktu telah berjalan cepat. Menatap kembali file-file lama, kenangan saya kembali terbuka. Banyak hal telah berubah. Saya telah jauh melangkah, dan tumpukan berkas usang itu menjadi saksi bisunya.
Kemudian mata saya tertumbuk pada sebuah buku tebal bersampul hijau. Hei, itu kan skripsi saya. Seharusnya tidak ada di sana, kan? Ya. Skripsi itu, seharusnya sudah dikirim ke pemilik perusahaan di mana dulu saya melakukan penelitian, tujuh tahun yang lalu. Kenapa masih ada di sana? Apakah saya lupa, atau memang sengaja melupakannya?
Tangan saya bergerak cepat. Membongkar seluruh isi lemari. Ada buku yang di halaman pertamanya tertulis: untuk sahabatku X. Ada setumpuk barang dalam kantong plastik yang tertulis: milik temanku Y. Dan ada benda-benda lain yang memberitahu bahwa mungkin saya telah mengabaikan sesuatu yang penting, yaitu janji-janji saya.
Ya Allah, mengapa baru saya sadari? Selain benda-benda ini, masih ada berapa banyak lagi? Berapa banyak janji yang telah saya buat untuk orang lain – untuk mengirimkan sesuatu, menyimpankan sesuatu, atau melakukan sesuatu – dan tidak dilaksanakan? Berapa banyak amanah yang tersimpan di dalam lemari ini, dan menunggu untuk ditunaikan? Seberapa banyak janji yang telah saya buat dan saya lupakan, padahal di saat yang sama, orang lain mungkin masih sedang menantikannya? Bagaimana kalau waktu saya habis dan saya tak sempat menunaikannya?
Itu baru janji-janji kecil. Amanah-amanah kecil. Bagaimana bila di antara berkas yang tersimpan dan telupakan itu ada sebuah janji besar? Sebuah janji yang menyangkut keselamatan dan kebahagiaan seseorang? Ya Allah, ampunkan saya.
Sahabatku. Dalam kehidupan sehari-hari – di kantor, di rumah, di mana saja – mungkin Andapun akan menemukan hal sama. Begitu banyak janji bertebaran, namun terabaikan. Ada janji pertemuan, janji wawancara, janji kondangan, janji setia, yang tidak dipenuhi. Di kantor, para pegawai berjanji untuk bekerja keras, patuh pada atasan, dermawan pada bawahan, tapi tak dilaksanakan. Di media, para pebisnis berjanji untuk memuaskan pelanggan, memberi hadiah, melayani dengan ramah, namun hanya sebatas iklan. Di rumah, suami/istri berjanji untuk saling pengertian dan memaafkan, namun kembali bertengkar. Di jalan, kita bertemu teman lama dan berjanji kapan-kapan akan mampir ke rumahnya, namun tak tahu kapan yang dimaksud dengan ‘kapan-kapan’ itu. Janji-janji terdengar atau terucap begitu saja. Kadang ia lahir hanya sebagai bentuk basa-basi. Kadang ia terucap karena terpaksa – akibat tekanan atau tak punya pilihan. Namun tak jarang, janji yang terlontar bersifat spontan. Diucapkan tanpa didasari pemikiran, sehingga tak perlu waktu lama bagi kita untuk menyesali dan melupakannya.
Sahabat, seberapa banyak janji yang pernah tercurah dari lisan kita, berserakan, dan sekarang terkubur entah di mana? Jangan-jangan, kita termasuk orang yang hobi menumpuk ‘utang janji’. Janji-janji telah teronggok di suatu sudut jiwa kita, dan kita bahkan tak menyadarinya? Kapan kita ada waktu untuk membersihkannya?
Saat ini mungkin kita sudah kenyang dengan janji-janji. Kampanye politik telah memberi kita daftar alasan untuk tidak terperdaya janji. Bagaimana dengan janji kita sendiri? Apakah kita telah membuat orang lain merasa kenyang? Terperdaya? Dan bahkan dirugikan? Mari kita sama-sama merenungkannya, Sahabat.
Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan: sekali janji terucap dari bibir kita, seumur hidup orang takkan melupakannya. Dan sekali kita mengingkarinya, seumur hidup orang takkan percaya. Janji-janji kita, akan mempengaruhi kredibilitas kita, kepercayan orang lain terhadap diri kita, dan tentu saja, keberhasilan kita.
MENGAPA JANJI HARUS DITUNAIKAN?
Paling tidak, ada 3 alasan kenapa janji harus ditunaikan.
1. Janji membuat kita terbebani
Sahabat, mungkin di suatu tempat, di pasar atau di pelabuhan, kita pernah melihat seorang lelaki membawa karung berat di punggungnya. Begitu berat, hingga punggung itu melengkung. Begitulah orang yang mudah berjanji. Ia membawa sekarung amanah yang memberatkan punggungnya.
Janji sama dengan utang, bahkan lebih buruk dari itu. Kalau utang harta bisa dihitung, bagaimana utang janji dapat diukur? Kalaupun kita sudah berusaha membayar, bagaimana kita bisa tahu sudah melunasinya atau belum?
Semakin banyak terucapkan, semakin banyak beban untuk ditunaikan, dan semakin bingung kita mencari cara untuk menunaikannya. Banyak orang yang memiliki terlalu banyak janji, merasa terbebani, dan karena beban itu sudah terlalu penuh di benaknya, secara otomatis ia akan mencari cara untuk melupakannya. Mengapa? Karena melupakan lebih mudah dari melaksanakan.
Orang-orang sukses, seperti Rasulullah dan para sahabatnya, sangat takut akan janji. Bahkan ketika syahadat diucapkan, para sahabat menangis, sebab tahu bahwa kalimat syahadat adalah ikrar yang tidak mudah dilaksanakan. Ikrar terberat dalam hidup, yakni mentaati Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana dengan kita? Kapan terakhir kali kita menangisi janji kita?
Sahabat, Anda pasti tahu. Janji adalah sebentuk komitmen hati. Bila kita mengingkarinya, maka hatilah yang akan tersiksa. Jadi, lepaskan saja. Mulai detik ini, kita niatkan dengan hati, takkan sekali lagi menganggap enteng janji.
2. Janji dekat kepada ingkar
Ada pepatah bahwa “orang yang mudah berjanji, biasanya mudah mengingkari.” Orang yang mengumbar janji, biasanya tidak benar-benar memikirkan ucapannya. Ketika satu kata terlontar, benaknya tak berusaha merekamnya, sehingga kata tersebut dengan mudah terlupakan. Dari sinilah sikap ingkar janji berasal.
Dan tahukah Sahabatku, apa akibat bagi para pengingkar janji? Anda pasti tak ingin mendengarnya, bukan? Karena sudah tahu bahwa mengingkari janji adalah perbuatan orang fasik. Dan menunaikan janji adalah perbuatan orang bertakwa. Sebagaimana firman-Nya:
“…dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah 2: 177)
Baiklah, saya akan memberikan pertanyaan sebaliknya: apa akibat bagi para pemelihara janji? Allah SwT berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (Al Ma’aaru, 70:32-35)
Benar. Kita akan kekal di surga tatkala bisa memelihara janji kita. Subhanallah. KEKAL DI SURGA. Tidakkah itu merupakan balasan terbaik, hadiah terindah, yang lebih baik dari apapun yang ada di bumi dan langit? Ayo teman, segera tunaikan janji kita untuk menyongsong kabar gembira ini.
3. Janji menjauhkan kita dari keberhasilan
Orang menjadi sukses bukan karena janjinya, tapi karena komitmen dalam melaksanakannya. Kita dihormati bukan karena janji yang kita ucap, melainkan karena komitmen yang kita buat.
Sahabat, bayangkan bila seseorang mudah melupakan janjinya. Apakah dia akan sukses? Tentu tidak, bukan? Sebagai contoh, di kantor bos bertanya, “Kapan laporannya selesai?” “Besok,” jawab kita. Ternyata besok belum selesai. “Jadi kapan?” tanya bos lagi. “Lusa,” janji kita. Ternyata belum selesai juga. Akhirnya bos merasa bosan, dan kita pun takkan lagi dipedulikan. Jangankan naik jabatan, kita mungkin malah menjadi orang pertama yang ada dalam daftar rencana PHK.
Bayangkan lagi, bila seorang pemimpin mudah melupakan janjinya. Ketika kampanye dia mengucap seribu janji manis, namun saat terpilih, tak sekalipun janji itu terbukti dipenuhi. Bagaimana sikap kita? Tentu kita akan sebal dan kecewa. Dan di masa mendatang, kita sudah pasti tidak akan memilihnya. Dia akan gagal.
Bayangkan hal yang lebih sederhana. Sepasang insan mengucap ikrar perkawinan, berjanji hidup bersama dan saling setia. Ketika salah satu terbukti berselingkuh, akan terjadi dua hal. Perceraian, atau pernikahan yang sudah tak didasari rasa percaya. Dua-duanya adalah kegagalan.
Sahabat, saya sungguh takut dengan lisan saya sendiri. Selama sekian tahun hidup ini, janji-janji apa saja yang pernah saya ucapkan? Berapa yang disadari? Berapa yang terlupakan? Saya takut, di akhirat nanti, saya akan ditagih. Bagaimana dengan Anda? Sebelum sama-sama menyesalinya, ayo kita segera tunaikan janji kita. Tips berikut ini mudah-mudahan akan berguna.
TIPS MENUNAIKAN JANJI
Menunaikan janji dapat dilakukan dengan 3 cara.
1. Memelihara lisan kita
Kata-kata takkan pernah dapat ditarik kembali. Begitu sudah keluar, tak berguna kita menyesalinya. Oleh sebab itu, sebelum berupaya menunaikan janji, lebih baik mencegah agar lisan kita tak mudah mengucapkannya. Itu akan lebih memelihara diri kita.
2. Berpikir sebelum berjanji
Tidak baik mengobral kata, bukan? Sebelum melontarkan janji, lebih baik kita berpikir dulu, apa konsekuensinya? Sanggupkah saya melakukannya? Bila janji itu terlalu berat, atau tak mungkin dilaksanakan, lebih baik ditahan. Tidak mudah, namun seiring waktu, kita akan terbiasa melakukannya.
3. Menunaikan dengan segera
Ketika janji sudah terlanjur jatuh, jangan ditunda-tunda, penuhi segera. Ibarat utang, kita harus cepat-cepat membayarnya, sebelum ajal menjemput kita sewaktu-waktu. Semakin lama menunda, semakin kita melupakan janji kita, dan janji-janji itu hanya akan terkubur di suatu tempat dan menjadi beban yang memberatkan di akhirat kelak.
Nah, Sahabat. Sebelum menagih orang, ayo kita menagih diri sendiri. Saya akan membuat daftar utang saya. Menulis janji apa saja yang telah saya buat, baik sengaja ataupun tidak disengaja. Bagaimana dengan Anda? Berapa janji Anda yang belum tunai? Sepuluh? Seratus? Seribu? Atau…tidak tahu karena saking banyaknya? Bila kita tidak tahu, kita masih bisa berharap, bukan? Bahwa Allah maha Pemberi Ampunan. Copyright @ 2009 by Elie Mulyadi, dimuat di Majalah Hidayah
Add a comment April 6, 2009

Masa lalu terkadang seperti pintu
Yang membuat kita terkurung dan enggan bergerak maju
Suatu hari, seorang pengembara lewat di sebuah hutan. Karena hari sudah malam, dan hujan pun turun lebat, ia terpaksa mencari penginapan di desa terdekat. Untunglah ada, meski penginapan tersebut hanya sebuah rumah bambu sederhana yang terdiri atas kamar-kamar. Pengembara itu ditempatkan di kamar loteng, dengan jendela menghadap sebuah areal pekuburan.
Pagi harinya ketika bangun, ia membuka jendela dan melihat seorang lelaki sedang menggali tanah di areal pekuburan. Karena penasaran, dihampirinya lelaki itu. “Anda hebat sekali, sudah bekerja di pagi buta,” pujinya, membuka percakapan.
Lelaki itu menatapnya sekilas, lalu kembali bekerja.
“Kenapa anda menggali tanah ini?” tanya pemuda pengembara.
“Karena inilah tugas saya,” kata lelaki itu. “Saya seorang penggali kubur. Sejak 20 tahun yang lalu.”
Pemuda itu sangat heran. Menurutnya, penggali kubur adalah profesi yang menyedihkan. “Kenapa anda mau menjalaninya?”
Lelaki itu berhenti menggali. Diletakkannya cangkul di atas tanah. Lalu ia menunjuk ke arah tiga bukit kecil di kejauhan. “Lihat, di antara tiga bukit itu ada sebuah rumah bobrok.”
Pengembara itu berdiri di sampingnya, menatap sebuah rumah kecil yang sudah tua dan hampir roboh, tampak suram di pagi yang dingin berkabut.
“Dulu, seorang petani yang terpelajar tinggal di rumah itu, bersama anak lelakinya. Sang petani, meskipun miskin, namun kekayaan ilmunya sangat luas, karena dia rajin membaca buku. Setiap hasil taninya dibelikan buku-buku. Oleh sebab itu ia sangat dikenal dan dihormati sebagai petani yang berilmu tinggi. Ketika anak lelakinya menginjak usia dewasa dan mewarisi ilmu ayahnya, petani itu meninggal dunia.”
“Semua orang di desa itu hadir di pemakaman. Mereka memberi penghormatan terakhir untuk sang ilmuwan desa. Lalu setelah upacara pemakaman selesai, anak lelaki si petani kembali ke rumahnya dan mendapati dirinya dicekam kesedihan dan kesepian. Anak lelaki itu akhirnya memutuskan untuk menikah, agar rasa sepinya hilang.”
“Di desa itu ada tiga gadis kakak beradik yang tersohor kecantikannya. Maria, si bungsu adalah gadis yang manja. Adelaide, putri kedua, adalah gadis yang rajin. Dan Madelain, si sulung, gadis yang pintar. Pemuda itu bingung memilih yang mana. Namun akhirnya ia memilih Maria, si manja. Dua insan itupun menikah dan hidup bahagia.”
“Namun tak lama, Maria sakit, lalu meninggal dunia. Si pemuda sangat sedih. Untuk menghapus dukanya, ia pun menikahi Adelaide, si rajin. Sayang sekali, istri keduanya itu pun tak hidup lama. Adelaide tewas karena sakit.”
“Lalu pemuda itu menikahi Madelain, si putri sulung yang pintar. Mereka menikah dan mengenakan baju pengantin. Akan tetapi ketika akad nikah usai digelar, di luar turun hujan, dan petir menggelegar. Sang pengantin wanita tiba-tiba mengejang, tubuhnya hangus. Pemuda itu memeluk istrinya dengan kaget dan sedih. ‘Kenapa istriku satu per satu meninggalkanku?” ratapnya. ‘Maafkan aku,’ kata Madelain. ‘Akulah yang telah membunuh kedua adikku. Aku meracuni Maria dan Adelaide, karena iri melihat kebahagiaan di wajah mereka saat bersanding denganmu. Kini tubuhku disambar petir, aku telah dikutuk Tuhan atas perbuatanku. Tuhan tidak setuju aku mereguk kebahagiaan setelah menimpakan kesengsaraan pada kedua adikku.”
“Madelain pun tewas, seperti kedua adiknya. Jenazahnya dimakamkan di salah satu dari tiga bukit kecil, berdampingan dengan makam kedua adiknya di bukit-bukit kecil yang lain. Tiga bukit kecil itu adalah saksi bisu kisah cinta yang terjadi di rumah yang kini sudah bobrok itu. Demikianlah ceritanya.”
Si penggali kubur mengakhiri kisahnya dengan helaan nafas berat.
“Lalu bagaimana dengan nasib pemuda itu?” tanya pengembara.
“Pemuda itu? Oh, dia sekarang sedang berdiri di samping anda!”
Pembaca, di sekitar kita, mungkin ada orang-orang yang hidup menderita akibat deraan kepedihan di masa silam. Seorang penyapu jalan, yang terpaksa menjalani profesinya karena di masa lalu ia hanya mengecap pendidikan rendah. Seorang pengamen, yang mengamen karena mencontoh masa lalu, yakni kedua orangtuanya yang berprofesi sama. Atau, seorang penggali kubur, yang terpaksa melakoni pekerjaan melankolisnya, hanya karena tragedi yang menimpa orang-orang tercinta di masa lalunya – seperti dalam kisah di atas.
Bukan, bukan saya ingin memvonis bahwa seorang penyapu jalan, pengamen, atau penggali kubur itu profesi yang buruk. Tidak. Tanpa mereka, justru dunia ini mungkin tidak indah. Sampah akan berserakan tanpa seorang penyapu jalan. Terminal bus menjadi sepi tanpa seorang pengamen. Jenazah akan terlunta tanpa seorang penggali kubur. Namun, saya hanya bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang begitu betah menjalani profesi tertentu yang tidak menjamin kehidupannya? Apa yang menjadi kendala? Bukankah kita semua, siapapun adanya, berhak untuk mengenyam pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik?
Saya teringat firman Allah (SWT) berikut ini:
“…bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Az Zumar 39:39 & Al An’am 6:132)
Saya merasa cemas setiapkali membaca firman di atas. Sudahkah saya bekerja sebaik mungkin sesuai dengan keadaan (kemampuan)? Jangan-jangan saya mengukur terlalu rendah kemampuan diri, sehingga sudah merasa puas dengan upaya-upaya yang sebetulnya masih bisa dioptimalkan lagi? Atau, jangan-jangan karena masa lalu yang pahit, membuat terkadang saya merasa ‘terpentok’ nasib?
Di sekitar kita (semoga bukan kita), selalu ada orang yang menyalahkan masa lalu. Ia menganggap nasib getirnya bukanlah akibat kesalahannya, melainkan akibat masa lalunya. Sebagai contoh, “Ah, pantas saya jadi buruh tani, ayah saya juga dulunya hanya seorang petani.” “Kalau dulu saya diberi kesempatan, karir saya takkan stagnan seperti sekarang.” “Dulu saya kepingin jadi aktor, tapi sering dibilang jelek dan bodoh sama orang, akhirnya saya melepaskan cita-cita dan harus puas hanya menjadi tukang becak.”
Masya Allah. Teman, memang benar. Sebagian besar dari kita merupakan produk masa lalu. Apa yang kita yakini dan alami di masa lampau, itulah yang membentuk diri kita yang sekarang. You are what you used to be. Lingkungan masa kecil, pengalaman masa remaja, pendidikan keluarga, sangat besar pengaruhnya dalam menciptakan diri kita di masa kini. Kebiasaan yang terpatri di masa lampau, akan terbawa ke dalam diri kita, dan bila kita tak mau melepasnya, itu akan menjadi citra diri kita yang nyata.
Tentu kita tahu. Seorang anak yang sering diperlakukan kasar, akan tumbuh menjadi nakal atau temperamental. Seorang anak yang sering dilarang, akan tumbuh menjadi penakut atau pemberang. Seorang anak yang tumbuh dengan kasih sayang cukup, akan menjadi orang yang bahagia dan percaya diri.
Oleh sebab itu, mungkin bisa dimengerti bila sebagian orang mengaitkan keberhasilannya sebagai efek dari pengalaman masa lalu yang positif. Dan di sisi lain, mengaitkan kegagalannya sebagai akibat pengalaman masa lalu yang negatif. Mari sekali lagi, kita dengar ocehan berikut ini:
“Coba kalau orangtua saya kaya raya, pasti saya hidup senang, tidak miskin seperti sekarang.”
“Coba kalau orangtua saya bisa membiayai kuliah, saya jadi sarjana dan tidak nganggur kayak sekarang.”
Frase ‘coba kalau’ menyesaki angan, membuat kita punya alasan untuk menerima kenyataan, untuk menerima keadaan dan berhenti berjuang.
Haruskah demikian, Teman? Haruskah kita terbelenggu masa silam? Menyalahkannya atas semua kenyataan pahit yang menimpa diri kita? Menjadi alasan bagi kita untuk tenggelam dan tak mau mencari jalan keluar?
Temanku, bila masa lalu yang negatif terus menerus dijadikan kambing hitam atas semua gagal dan salah kita, tentu kita tidak bijaksana. Mengapa? Sebab di luar sana, begitu banyak orang yang justru bertindak sebaliknya. Mereka tidak tinggal diam menekuri masa silam. Mereka berjuang menepis pahitnya kenangan, dan berupaya keras mengecap manisnya keberhasilan. Siapa saja mereka? Tentu anda bisa menyebutkan beberapa nama. Saya sendiri punya satu nama, yang meskipun tidak sempurna, namun dapat dijadikan inspirasi dalam melepas belenggu masa lampau.
Wanita ini memiliki masa lalu yang getir. Bahkan mungkin jauh lebih pahit daripada masa kecil kita. Ia seorang anak perempuan yang lahir di luar nikah. Di usia 9 tahun, ia dilecehkan secara seksual oleh seorang pamannya, dan di usia 11 tahun oleh pamannya yang lain. Di usia 13 tahun, ia masuk penjara anak-anak nakal, lalu dikeluarkan karena tidak ada tempat lagi di penjara. Di usia 14 tahun, ia mengikuti jejak ibunya, melahirkan bayi di luar nikah, dan bayi itu mati prematur. Sebuah masa lalu kelam, yang wajar bila membuatnya larut dalam kesedihan berkepanjangan. Namun ternyata, ia tidak mau terbelenggu kepahitan. Ia berjuang melupakan masa lalu, demi menapaki masa baru. Dengan warna kulit hitam yang minoritas, ia bekerja keras agar tidak tenggelam di tengah kaum mayoritas. Sekarang, ia menjadi salah satu wanita paling berpengaruh, paling sukses, dan paling dermawan di Amerika. Oprah Winfrey, ya anda tahu dialah orangnya.
Ah, Teman. Mungkin kita tidak bisa menjungkirbalik roda nasib 180 derajat, seperti yang dilakukan Oprah. Tapi, kita bisa memulainya dari hal yang sederhana. Meraba ke dalam jendela-jendela kalbu, masih adakah bayang-bayang masa lalu, yang membuat kita malas bergerak maju? Bila ya, mari kita hapuskan itu.
Barangkali kita terbiasa dengan penderitaan, sehingga lama-lama menjadi kebal. Kita jadi betah terkungkung oleh kepahitan, betah tenggelam dalam kepedihan. Kita mulai senang berlama-lama dalam kenangan, enggan bangkit, dan mulai menikmati. “Biarlah saya begini, saya ‘nrimo’ kok, saya pasrah kok, saya bersyukur kok.”
Teman, hati-hati dengan kata ‘bersyukur’. Bersyukur tidak berarti diam atau mundur. Namun sebaliknya, berusaha agar kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih bermanfaat, lebih mendatangkan kemaslahatan untuk orang-orang di sekitar. Apakah itu akan terjadi bila kita diam saja? Apakah itu akan terjadi bila kita menikmati masa lalu dan menjadikannya tameng untuk berhenti berupaya? Tentu tidak, bukan?
Saya pernah membaca firman Allah (SWT) yang bunyinya begini:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Hasyr 59:18)
Ya. Kita tidak boleh terlalu lama menatap masa lalu. Sebaliknya, kita mulai memperhatikan apa yang kita perbuat hari ini, untuk bekal esok nanti. Tidak menyesali apa yang telah terjadi, namun menjadikannya cermin untuk memperbaiki diri. Itulah ciri-ciri orang yang beriman. Melepaskan diri dari belenggu masa lalu, kemudian bergerak maju.
Ada sebuah puisi yang indah yang saya dapat dari seorang teman. Begini bunyinya:
“Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan
dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja…
“Anda tak tahu apa yang akan terjadi.
Anda bahkan tak tahu apakah masih akan hidup esok hari.
Anda tak bisa mengharapkan keceriaan
dan menghapus kesedihan yang akan anda temui.
Esok hari belum tiba; biarkan saja…
“Pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depan belum dibuka.
Pusatkan diri anda untuk hari ini saja.
Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini
bila mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan
ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini, karena masa lalu dan masa depan
hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah hari ini, karena hanya itulah yang anda punyai.”
Subhanallah. Indah sekali bukan? Masa lalu ibarat pintu yang harus ditutup. Kita tak boleh berlama-lama memandangnya kalau tak ingin terkurung di sana selamanya. Lepaskan pegangannya, kuncilah rapat-rapat, tutuplah tirainya. Tinggalkan masa lalu yang mengekang itu, berfokuslah pada masa sekarang untuk bekerja dan beribadah sebanyak mungkin selagi ada waktu. Insya Allah, dengan memanfaatkan sebaik mungkin hari yang kita miliki saat ini, kebahagiaan dan keberhasilan pun akan menyongsong di esok hari.
Sekarang saya mau menutup pintu di belakang saya, untuk bersiap membuka pintu yang lain di depan saya. Bagaimana dengan pintu anda, Teman, sudahkah ketemu kuncinya?
Copyright © 2009 by Elie Mulyadi, tulisan ini dimuat di Majalah Hidayah edisi Maret 2009
Add a comment Februari 19, 2009